Britain Exit (Brexit) : Pengertian dan Konsekuensi

Beberapa waktu belakangan ini dunia perekonomian sedang digemparkan dengan istilah Brexit (Britain Exit) atau keluarnya Inggris dari Persatuan Negara-Negara Eropa atau Uni Eropa (EU). Banyak pakar ekonomi menilai langkah ini akan menimbulkan berbagai masalah baik untuk perekonomian Inggris sendiri maupun perekonomian dunia. Namun, hingga saat ini, beberapa konsekuensi tersebut masih belum sepenuhnya terlihat. Banyak orang yang masih dalam proses kebingungan, kenapa sampai Inggris melakukan langkah ini dan apa yang akan terjadi selanjutnya.

 

world-war-ii

Uni Eropa

Sebelum pecahnya perang dunia, Eropa adalah kumpulan dari berbagai Negara dengan keinginan yang lebih besar dibandingkan dengan benua lain. Keinginan itu terlihat dari banyaknya Negara di Eropa yang memiliki Negara jajahan. Hal tersebut akhirnya menimbulkan terjadinya gesekan di antara negara-negara Eropa sendiri. Masalah tersebut semakin berkembang setelah perang dunia kedua terjadi. Masalah tersebut menyangkut ekspor impor, imigrasi, dan aturan ekonomi.

 

Berbagai negara memiliki hukumnya masing-masing mengenai berbagai hal yang menyangkut dengan hubungan dengan Negara lain. Seperti contohnya Indonesia memiliki Pajak untuk barang impor yang masuk ke Indonesia dan berbagai hal lainnya yang harus dipenuhi. Begitu juga dengan Negara-negara di Eropa. Proses impor dan ekspor akan diikuti dengan Pajak dan aturan yang memberatkan.

 

Hukum tersebut juga bersangkutan dengan masalah imigrasi. Adanya berbagai proses yang harus dilalui sebelum imigrasi antar Negara bisa dilakukan. Berbagai masalah yang berhubungan dengan ekspor impor, imigrasi dan aturan ekonomi tersebut lama kelamaan dianggap terlalu memberatkan di antara Negara-Negara Eropa itu sendiri. Oleh karena itu, Negara-Negara Eopa memutuskan untuk mendirikan Uni Eropa dan menurunkan pembatas-pembatas ekspor impor, imigrasi, dan aturan ekonomi yang sebelumnya membebani di antara mereka. Hampir semua negara-negara di Eropa setuju dengan persatuan ini dan memutuskan untuk bergabung.

 

Ada Keuntungan, Ada juga Kerugian

Keuntungan yang didapatkan dengan bergabung membuat Negara-Negara Eropa menjadi lebih mudah dalam berbagai hal. Namun, keuntungan tersebut juga memiliki beberapa dampak buruk, jika salah satu dari anggota mengalami kesulitan, anggota Negara yang lain juga akan merasakan dampaknya. Sebagai contoh adalah krisis moneter pada tahun 2008, banyak pakar mengatakan bahwa Bank Central Eropa telah gagal mengambil respon dalam menangani krisis yang mengakibatkan meningkatnya pengangguran dan menurunnya penghasilan pajak yang didapatkan. Banyak bank yang akhirnya membutuhkan bantuan kredit. Hal tersebut juga membuat beberapa negara yang termasuk dalam kelompok negara kaya, seperti Inggris, menjadi takut bahwa negara mereka harus membantu negara yang kurang mampu karena efek yang akan terjadi pada Inggris sendiri.

 

Population Chart

Meningkatnya Populasi Imigran Inggris

Akibat mudahnya imigrasi di antara negara Eropa juga dianggap merugikan Inggris dengan meningkat tajamnya jumlah populasi orang yang bukan berasal dari Inggris sendiri sebanyak 2 kali lipat dari tahun 1993 sampai 2014. Hal tersebut diakibatkan karena 2 hal yaitu imigrasi dari negara yang kurang mampu ke negara yang lebih seperti inggris dan krisis finansial tahun 2008 yang membuat banyak orang Eropa mengalami kesulitan mencari pekerjaan di tempat asal.

 

Hal tersebut memicu perbedaan pendapat di antara orang Inggris sendiri apakah mereka harus tetap bertahan dan menghadapi masalah kependudukan ini atau memilih keluar dari Uni Eropa. Survei yang diadakan tahun lalu mendapatkan hasil sebanyak 45% setuju bahwa Imigrasi merupakan masalah yang harus ditanggulangi. Jumlah tersebut terus meningkat hingga hari menjadi 77%, yang mengakibatkan keluarnya Inggris dari Uni Eropa dengan perbandingan 51,9% setuju Inggris keluar.

Brexit Vote Google

Efek yang ditimbulkan Brexit

Beberapa hal masih belum bisa dipastikan, dan mengakibatkan terjadinya ketidakpastian di Inggris. Perdana Menteri Inggris, Cameron juga mengajukan pengunduran dirinya karena percaya bahwa Inggris tidak seharusnya melepaskan diri dari Uni Eropa.

 

Inggris dan Uni Eropa menetapkan waktu 2 tahun untuk menentukan perjanjian dari keluarnya Inggris. Namun hal tersebut tidak akan berdampak banyak karena kemungkinan Uni Eropa tidak akan terlalu bersikap lembut kepada Inggris atas keputusan tersebut. Inggris akan mengalami kesulitan dalam hal Ekspor dan hal tersebut akan sangat mengganggu perekonomian Inggris sendiri. Selain perekonomian, saat ini ada sebanyak 1,2 juta orang Inggris yang bekerja di negara Uni Eropa lainnya tanpa halangan, akan berubah saat perjanjian sudah mulai ditetapkan.

 

Perjanjian antara Amerika dan Inggris juga harus diperbaharui. Jika sebelumnya perjanjian cukup dibuat sekali antara Amerika dan Uni Eropa, sekarang berbagai perjanjian yang menguntungkan juga harus diperbarui kembali karena Inggris sudah bukan merupakan bagian dari Uni Eropa. Selain itu, kepergian Inggris akan mengakibatkan percikan lain di antara negara-negara Uni Eropa. Ada kemungkinan Negara lain akan memutuskan untuk melepaskan diri dari Uni Eropa mengikuti jejak Inggris.

 

Leave a comment

Your email address will not be published.


*