Penyertaan Modal Negara 2016

Image Source

Penyertaan Modal Negara untuk tahun 2016 ini menyasar beberapa perusahaan milik negara, seperti salah satunya adalah PLN. PLN menerima suntikan modal paling besar diantara perusahaan-perusahaan BUMN lainnya. Modal yang digelontorkan oleh pemerintah untuk PLN sebesar 10 triliun rupiah yang nantinya akan digunakan untuk pembiayaan proyek besar pembangkit listrik senilai 35.000 megawatt dan saat ini proyek ini tengah dalam tahap pengerjaan. Tahun ini saja, ada beberapa perusahaan BUMN lainnya yang mengumumkan right issue; sebut saja JSMR, KRAS, PTPP, dan WIKA. Ini membuktikan bahwa pemerintah masih terus menjalankan program Penyertaan Modal Negara untuk tiap tahunnya (tahun 2017, 2018, dan seterusnya). Dengan rencana seperti ini, kemungkinan besar akan ada perusahaan-perusahaan BUMN lain yang akan menyusul untuk mengumumkan right issue.

Nah, yang menjadi pertanyaan adalah apakah program Penyertaan Modal Negara ini membuahkan dampak terhadap saham perusahaan-perusahaan BUMN yang bersangkutan? Apakah terdapat dampak yang berarti bagi perekonomian nasional Indonesia dan IHSG? Melihat pengalaman yang sudah ada, memang ada dampak yang dirasakan pasca pelaksanaan program PMN ini. Right issue ADHI, WSKT, dan ANTM, misalnya, ditetapkan di bawah harga pasar. Kondisi ini sepertinya sengaja dibuat oleh pemerintah agar momen PMN ini tidak dilirik oleh investor-investor tertentu yang ingin mendapatkan profit jangka pendek. Apabila perusahaan-perusahaan ini mampu memanfaatkan modal yang telah diberikan oleh pemerintah hingga infrastruktur-infrastruktur yang telah dibangun memberikan nilai tambahan, khususnya kinerja perusahaan, dan pada akhirnya menaikan harga saham, secara otomatis pemegang saham akan diuntungkan. Hanya saja memang memerlukan waktu yang cukup lama (sekitar 1 hingga 2 tahun).

Dampak lainnya yaitu dengan modal yang kuat dan besar, perusahaan-perusahaan BUMN penerima program PMN dapat mengajukan usulan kredit atau pinjaman ke bank atau bisa juga menerbitkan surat obligasi dengan tujuan untuk menambah modal kerja. Alhasil, bank akan menerima omset besar dari pengajuan  kredit. Tambahan modal dari pinjaman ini pun dapat dimanfaatkan untuk membayar subkontraktor, merekrut para pegawai baru, dan belanja material dari para suplier. Artinya, PMN ini memiliki dampak meluas yang juga menguntungkan pihak-pihak lain selain BUMN. Misalnya kalangan masyarakat yang diuntungkan dengan adanya lapangan pekerjaan baru (menjadi pekerja di proyek pembangunan infrastruktur yang diselenggarakan oleh pemerintah), pihak pengusaha material bangunan, dan lain sebagainya.

 

Leave a comment

Your email address will not be published.


*